Sejarah Panjang Batik Kawung

Di Indonesia, banyak sekali jenis batik yang tersebar di berbagai penjuru provinsi. Di 5 pulau utama Indonesia saja - Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua - memiliki bermacam jenis, belum lagi pulau-pulau lainnya. Motif dan varian batik tersebut, punya sejarah dan arti tersendiri dibalik torehan dan warnanya. Sebut saja batik kawung. Batik ini merupakan satu dari banyak motif yang sejarahnya boleh dibilang panjang di kalangan masyarakat. Kentalnya unsur kearifan Jawa merupakan esensi dari motif ini dan ditumpahkan menjadi menjadi pola yang geometris.

Sedikit gambaran tentang sejarah batik, motif ini pada zaman dahulu tidak diperkenankan untuk dipakai atau digunakan oleh khalayak biasa dan hanya boleh dimaksudkan untuk Kesultanan Yogyakarta, yaitu keluarga inti Sultan Hamengkubuwono. Dan artikel ini akan menceritakan banyak aspek dari batik kawung, mulai dari sejarah hingga esensinya dengan detil.

Asal Usul Nama Kawung

Banyak versi yang menceritakan tentang apa insipirasi terciptanya motif batik kawung, namun terdapat dua versi yang diakui akan nama kawung, yaitu serangga dan buah pohon aren. Yang pertama, serangga, berasal dari Kwangwung (Oryctes rhinoceros), sejenis serangga berwarna cokelat muda yang sering hinggap sebagai hama tanaman kelapa. Kwangwung ini kerap kali mengganggu tanaman kelapa dan menjadi momok bagi para petani. Versi ini berpendapat bahwa warna dan bentuk serangga kwangwung ini menjadi inspirasi bentukan serta corak dari Batik kawung. Pola melingkar dan warna coklat gelap mengkilap dianggap berakar dari bentuk serangga Kwawung yang legam dan oval/lonjong.
kolang kaling menjadi salah satu asal nama batik kawung

Versi kedua dipercayai datang dari sejenis tumbuhan palem/aren atau buah pohon aren yang biasa disebut kolang-kaling. Namun, versi kedua inilah yang lebih banyak dipercayai oleh masyarakan ramai. Buah ini, disebut menjadi inspirasi karena bila dibelah menjadi empat, akan memiliki kompisisi indah dengan biji dan buahnya yang membentuk bagian-bagian yang simetris. Bentuk yang menyerupai bunga teratai yang mekar dan seperti rangkaian bunga yang dapat terlihat seperti rangkaian bunga teratai inilah yang menginspirasi motif jalinan berikat yang dapat secara jamak kita lihat pada Batik kawung dewasa ini.

Motif kuno berusia 12 Abad

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, motif tulis kawung merupakan salah satu motif yang tertua dan memiliki sejarah panjang. Motif ini dikategorikan sebagai motif Ceplok (ceplokan, keplok). Ceplok sendiri merupakan nama pola geometris repetitif yang tersusun atas pola berbentuk lingkaran seperti bunga mawar atau bintang.

Perkembangan motif ini, sudah dimulai sejak zaman Mataram Baru, yang bermula sejak abad ke 13. Beberapa orang percaya bahwa terciptanya motif ini merupakan buah tangan dari Sultan Mataram yang notabenenya adalah sosok yang paling berkuasa pada zaman itu.

Namun penelitian lain menyebutkan bahwa motif kawung dalam jejak peninggalan Jawa, memiliki pola yang serupa dengan dinding-dinging candi hindu kuno pada Prambanan. Cukup mengejutkan bahwa salah satu arca Ganesa yang ada disana menunjukkan motif lereng, ceplok, dan nitik yang mana memiliki hubungan kuat dengan perkembangan motif Kawung

Mengingat bahwa Candi Syiwa Prambanan ini sudah mulai dibangun sekitar abad ke-9 dapat kita tarik kesimpulan bahwa khalayak luas sudah mengenal motif ini jauh lebih awal dibandingkan dengan perkiraaan awalnya. Sehingga, boleh jadi motif ini telah ada dan tumbuh berkembang bersama masyarakat selama kurang lebih 12 Abad.

Batik eksklusivitas untuk keluarga kerajaan

Pada awalnya, masyarakat awam tidak diperkenankan untuk menggunakan Batik Kawung. Kawung ini hanya diperuntukkan untuk oran-orang yang berasal dari keluarga inti kerajaan saja. Sama halnya dengan Motif Parang, Motif Parang Rusak, Motif Cemukiran, Motif Sawat, Motif Udan Liris, Motif Semen, dan Motif Alas-alasan yang juga hanya boleh dipakai oleh keluarga kerajaan.

Motif-motif diatas, dinamakan motif batik larangan karena dahulu terdapat beberapa jenis-jenis motif batik yang awalnya hanya dapat dibuat dan digunakan di lingkungan dalam keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pembuatan proses batik yang lama dan butuh ketekunan, dianggap sebagai salah satu bentuk pengabdian terhadap Raja.

Namun dalam perkembangannya, motif batik dapat digunakan oleh golongan yang berbeda, sejak Negara Mataram terbagi menjadi dua, yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Di Surakarata, Batik Kawung banyak dipakai oleh golongan punakawan dan abdi dalem jajar priyantaka, sedangkan di Yogyakarta sendiri Batik Kawung jamak dipakai oleh sentana dalem.

0 komentar :

Posting Komentar

Popular Posts

Popular Posts

Popular Posts

© Copyright 2013. avtonc.com. All Rights Reserved. Designed by: LBT (Lovely Blogging Tricks)